Minggu, 30 September 2012

Ade Irma Suryani Nasution


“Anak Saja jang tertjinta. Engkau telah mendahului gugur sebagai perisai Ajahmu”
Tulisan yang tampak memudar di batu nisan berwarna putih dari almarhum Jenderal Abdul Harris Nasution kepada sang putri tercinta, Ade Irma Suryani. 

Ade Irma Suryani Nasution (lahir  19 Februari 1960– meninggal 6 Oktober 1965 pada umur 5 tahun) adalah putri bungsu Jenderal Besar Dr. Abdul Harris Nasution. Ade terbunuh dalam peristiwa Gerakan 30 September. Ade yang berumur 5 tahun tertembak ketika berusaha menjadi tameng ayahandanya. Dalam peristiwa tersebut tewas juga ajudan Jenderal Besar Dr. Abdul Harris Nasution yaitu Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean.

Sejak peristiwa 30 September tahun1965 lalu, sampai sekarang masih menyisakan luka diantara kita. Sosok anak kecil tanpa dosa, yang masih berusia lima tahun ikut menjadi korban tragedi memilukan sepanjang sejarah Indonesia.
Seorang bocah yang tidak tahu apa-apa, meninggal sebagai tameng sang Ayah ketika gelap malam mengintai kediaman mereka…

Dibawah rerimbunan pohon dalam kompleks Walikota Jakarta Selatan, Jalan Prapanca Raya. Makam Ade Irma Suryani tampak berdiri kokoh seperti masa hidupnya dahulu.

Berdiri tegak monumen setinggi empat meter yang setiap sisinya terdapat foto Ade Irma Suryani, baik saat masih kecil hingga saat dimakamkan. Dari beberapa gambar yang tampak kusam dan agak memudar, sedikitnya dapat terlihat berbagai momen prosesi pemakaman pada tahun 1965.

Menempati areal yang luasnya sekitar 500 meter persegi, makam dan monumen tampak indah dari kejauhan mata memandang. Meski sekarang lebih terawat dan tertata rapi, tidak seperti beberapa tahun lalu yang sering diberitakan berbagai media yang tampak kusam dan kotor. Setidaknya sekarang sudah tidak ada lagi rumput liar yang berserakan diatas makam, sementara lantainya yang terbuat dari marmer pun tampak bersih walau dedaunan kering berserakan dimana-mana.

Namun yang sangat disayangkan adalah akses masuk ke areal makam yang lumayan jauh dari jalan raya, karena harus melewati kompleks perkantoran Walikota. Sedangkan kalau melewati pintu belakang,  jalan Nipah tertutup pagar berwarna hijau. Juga engsel pagarnya sendiri terlepas di sisi kanan, hingga mudah untuk orang lain meloloskan diri untuk masuk ke areal makam.

Terlepas dari semua itu, kita patut bersyukur karena areal makam ini tidak jadi dipindahkan saat gedung walikota dibangun. Sebab kalau sampai terjadi apapun alasannya tidaklah dibenarkan, karena ditakutkan peninggalan sejarah masa lalu akan ikut terkubur dan sulit untuk dipelajari bagi generasi selanjutnya.
Kini meski sudah lewat 47 tahun lamanya, sosok bocah yang meninggal akibat terkena peluru saat menjadi tameng sang Ayah, Jenderal Abdul Harris Nasution, akan selalu dikenang sepanjang masa.
*    *    *
“Akan Kuingat selalu
Ade Irma Suryani
Waktu dipeluk dipangku Ibu
Dengan segala kasih

Kini Ia terbaring di pangkuan Tuhan
Senang dan bahagia hatinya
Kini ia terlena tertidur terbaring
Nyenyak dipelukan Tuhannya”

*Lirik lagu karya Abdullah Totong Mahmud (AT. Mahmud)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar